Anny Djati W

Jumat, 25 Mei 2012

Balada Sekian....



"Aku menemukan nama kamu di Google.Bangga lho punya teman yang namanya tercantum di Google. Waduh, ternyata kamu penulis, ya. Hebat ya, kamu jadi penulis."
"Masa sih. Aku malah enggak pernah tahu, namaku ada di Google.  Siapa yang masukin, ya? Masa bisa masuk sendiri, aku enggak pernah nulis apa apa di Google."
Temanku menjelaskan panjang lebar tentang keterkaitan Google dengan Blog dan anu.., anu..., ini..., itu. Begitulah penjelasannya.
Aku cuma manggut manggut pastinya. Tetapi isi kepalaku sama sekali tidak mencerna semua penjelasan temanku tentang anu..,ini.., itu nya Google. Isi kepalaku justru sedang berpikir keras memecahkan arti sederet ucapan temanku, di antaranya, 'hebat ya, kamu jadi penulis'.
Hhhmmm... apanya yang hebat ya?

*Balada Pertama*

Coba bayangkan, apa hebatnya kalau seorang penulis yang siang malam berusaha menyelesaikan naskah fiksi atau non fiksinya, selama berminggu minggu bahkan ada yang berbulan bulan.
Sesudah naskahnya selesai, si penulis duduk termanggu di depan komputernya sambil memeras otak dan bertanya pada dirinya sendiri, 'mau aku serahkan ke penerbit mana, ya?'.
Keesokan harinya si penulis mulai menelepon penerbit A, penerbit B sampai Z, menawarkan tulisannya yang baru saja selesai dia garap.
Beberapa hari kemudian, si penulis melangkahkan kakinya dengan penuh semangat menuju kantor penerbit yang ingin mempelajari tulisan si penerbit dengan janji kalau memenuhi persyaratan, mereka akan menerbitkannya. Silahkan menunggu kabar dari penerbit.
Seminggu..., sebulan kemudian berita yang ditunggu penulis belum juga diterima dari penerbit. Akhirnya setelah 4 bulan lamanya penulis menunggu sampai manyun, datanglah berita yang ditunggu tunggunya dari penerbit.
"Maaf, Penulis.Kami tidak bisa menerbitkan naskah anda. Alasannya anda adalah seorang pemimpi yang mimpi." Penulis bingung mencoba mengartikan penolakan penerbit yang alasannya penulis adalah seorang pemimpi yang mimpi. Sayangnya penulis tidak mampu menemukan apa artinya.
Akhitnya penulis membawa tulisannya ke penerbit lain. Menunggu..., menunggu dan menunggu lagi. Jawabanpun datang dari penerbit, 'maaf, Penulis. Kami tidak dapat menerbitkan naskah anda karena tulisan anda penuh nada egois dan menggurui'.
Kembali penulis mencoba mengartikan penolakan penerbit.
Begitu seterusnya sampai akhirnya penulis lupa bahwa dia adalah seorang penulis.

----------



*Balada Ke dua*

Dengan suka cita penulis menerima berita bahwa naskahnya akan diterbitkan oleh penerbit. Sesuai pembicaraan awal naskah diterbitkan dengan cara 'royalti' yaitu penulis menerima pembayaran secara komisi atau pembagian persentase atas penjualan bukunya. Sesuai pembicaraan juga pembayaran akan diterima oleh penulis per tiga bulan atau per enam bulan dari penerbit.
Penulis bisa berlega hati dan dengan tenang menanti pembayaran yang dijanjikan oleh penerbit. Besarnya royalti juga sesuai dengan pembicaraan yaitu sekitar 10% dari harga jual buku dan... jangan lupa, penulis masih dipotong pajak 15%. Hhhmm...,pajaknya lebih besar dari royalti yang diterima oleh penulis.
Itulah upah penulis yang berbulan bulan, siang dan malam menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan tulisannya.

*Balada Ke tiga*

Penulis seolah olah bisa bernapas lega karena naskahnya dibeli putus oleh penerbit. Penulis loncat loncat kegirangan karena menerima pembayaran sekian puluh juta di depan atau in advance kata orang Jawa. Buku tabungan penulispun terisi.
Tetapi beberapa waktu kemudian penulis mengerutkan keningnya, bertopang dagu sambil menyesali keputusannya. Dan memandangi buku tabungannya dengan tatapan sedih. Bukunya melejit, istilah kerennya booming di pasaran bahkan sampai cetak ulang. Penulis mewek melihat bukunya booming dan dibicarakan oleh orang banyak.

---------

Balada Ke empat

Ada sejumput penulis yang punya uang lebih dan bisa menerbitkan sendiri dengan biaya sendiri buku yang ditulisnya, istilah jeleknya self publishing. Kenapa dibilang istilah jelek karena cuma keren bahasa Inggrisnya tapi arti yang sebenarnya uang penulis dikuras habis. Lho..., kenapa begitu? Ya iyalah...., mulai dari editor, kertas, cetak isi buku, bayar pinjam nama penerbit, biaya cover,ISPN, semua dibayar sendiri sama penulis. Puluhan juta jumlahnya yang harus dikeluarkan oleh penulis. oh iya, termasuk promosi buku. Launching, pasang backlight di toko toko buku dan promosi lainnya. Bisa puluhan juta lagi penulis harus membiayai promosinya. Keuntungannya dari balada balada lainnya, di sini dari distibutor penulis menerima komisi lebih besar dibandingkan dengan balada yang lainnya. Penulis bisa kipas kipas dengan komisi sebesar 50%. 50% saudara saudara.....
Buku terbit, dipajang di toko toko buku oleh distributor yang ditunjuk oleh penulis untuk memasarkan bukunya. Penulis bangga... Apalagi kalau menerima telepon ucapan selamat dari teman teman yang kebetulan berbelanja ke toko toko buku dan melihat poster/backlight segede gaban terpampang di toko buku kondang. Pamor penulispun melejit sampai ke langit lapis ke dua...
Hari pertama buku si penulis dipajang di toko buku.... Hari ke dua..Hari ke tiga...., degdeg plas...degdeg plas... menanti laporan dari distributor jumlah buku yang terjual....degdeg plas...degdeg plas....

-------

Balada demi balada... Lho..., kalau begitu apa enaknya jadi penulis?
Weeiittzzz jangan salah... bukan apa enaknya jadi penulis. Tahu tidak! Nilai seni itu tidak bisa dinilai dengan uang kata para pakar seni. Belum lagi nilai plus plus lainnya yang diterima oleh penulis ketika bukunya terpampang di rak toko toko buku, otomatis nama penulispun ikut ikutan terpampang di toko buku. Paling tidak nama penulis yang tadinya tidak kenal kalau dia rajin menerbitkan buku dengan sistim balada yang manapun, makin lama namanya juga akan ikut lumayan beken. Apalgi kalau tiba tiba ada produser film yang melirik bukunya untuk difilmkan. Hal ini pasti membanggakan penulis. Coba, kalau ada yang memuji penulis,'hebat ya, kamu jadi penulis'. Apalagi nama penulis ternyata tanpa disadarinya masuk ke Google.Bangga ga sih? Bangga ah.... jadi lupa sama balada balada yang tadi.

*Balada Sekian....*

Diangkat berdasarkan balada dari seorang penulis yang tak punya cukup uang untuk menerbitkan sendiri tulisan-tulisannya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar